Seminggu sebelum hari Sabtu tanggal 24 Mei aku dan suami sudah berniat untuk berangkat jam 6 pagi mengantar ayahku ke pengobatan alternatif itu agar dapat nomor awal biar ngantrinya gak kelamaan. Tapi niat tinggal niat, jum’at malam tgl 23 ada pengajian di rumahku dan pengajian itu baru selesai pukul satu dini hari, itupun masih dilanjutkan dengan obrolan soal pembentukan RW dan RT baru. Maklum, tempat aku tinggal merupakan perumahan baru, jadi baru saja terbentuk RW dan RT yang baru.
Sabtu pagi itu aku bangun karena kaget, hp ku berdering, setelah menjawab telepon aku merasa kepalaku berat banget, karna semalam tidurnya terlalu larut. Kulihat suamiku masih tertidur pulas, akupun kembali rebahan dan kembali kaget karna teringat mo ngantar ayah ke kelapa Gading untuk berobat. Dengan malas aku bangun, ternyata udah jam setengah 6 pagi. Tadinya niat mo berangkat jam 6 pagi akhirnya tertunda 1,5 jam, aku mesti nyiapin sarapan dulu sebelum berangkat.
Sesampainya di sana, masya Allah.. ternyata udah rame banget yang ngantri, padahal waktu itu waktu baru menunjukkan pukul 8.30 pagi, dan kami, aku, suami dan ayahku kebagian nomer 425-427. Dua kata yang hanya bisa terucap ketika menyaksikan pemandangan itu, ”luar biasa”. Bagaimana tidak, ratusan orang udah ngantri untuk bisa berobat di Pengobatan Alternatif Terapi Sentel Kertas yang terletak di Bukit Permata Gading, Jl. Bulevard no. 020 kelapa Gading, Jakarta Utara itu.
Lututku langsung lemas, ngebayangin nunggu giliran yang ke 400-an untuk bisa ketemu sang pengobat alternatif itu. Ini adalah kali ketiga kami kesini dan pengalaman sabtu dua minggu sebelumnya mengajarkan agar kami sebaiknya berangkat pagi2 banget kalo mau mendapatkan nomor awal. Maunya si gitu, tapi keadaan berbicara laen.
Dengan malas aku menunggu di mobil sambil terus memperhatikan orang-orang yang keluar masuk gedung tempat pengobatan itu, 1 jam serasa 1 hari. Akhirnya nomor kami di panggil tepat pukul setengah dua siang.
Sebenarnya cara pengobatannya cukup sederhana, diantara ibu jari kaki dan telunjuk diletakkan gulungan kertas putih lalu kertas itu disentil. Walaupun sentilannya hanya di kertas putih itu tapi rasanya seperti terkena sengatan listrik, sontak terkaget sekaligus sakit. Ini yang aku gak habis pikir, padahal beliau hanya menyentil kertas putih itu dan tidak mengenai anggota jari kaki yang laen, tapi rasa sakit yang muncul sangat luar biasa. Dari cerita-cerita yang aku dengar pada saat mengantri, sang alternatif yang bernama Soeharto ini ternyata punya kemampuan untuk mengobati orang turun temurun dari orang tuanya. Dan konon, seandainya dia langsung menyentil ke bagian tubuh tanpa melalui perantara kertas, maka si pasien pasti tak akan sanggup untuk untuk menahan rasa sakit yang ditimbulkan akibat sentilan itu.
Kemampuan lain dari bapak Soeharto ini adalah bahwa beliau langsung tau apa yg hendak kita keluhkan tanpa diberitau terlebih dahulu. Dan cara pengobatannya yang cukup sederhana ini yang membuat orang berduyun-duyun datang ke sana. Dari hasil wawancaranya di televisi swasta beberapa minggu yang lalu, dia mengatakan kalo sentilannya itu untuk melancarkan peredaran darah. Sebenarnya aku belum pernah nonton acara itu.. ayah dan mamaku yang nonton acara pengobatan itu, trus karna tertarik ortuku segera berangkat dari Banda Aceh ke Jakarta untuk mencoba pengobatan alternatif itu.
Ayahku memang telah lama sakit, sebenarnya si kalo dilihat secara fisik beliau kelihatan sehat-sehat aja, tapi beliau gak bisa berdiri atau jalan terlalu lama. Paling jauh berjalan 200 meter, kalau gak segera duduk atau beristirahat ayah akan merasakan kakinya kebas (kesemutan) dan gak bisa digerakkan lagi. Hal ini udah dikeluhkan ayah sejak tahun 1999, soale dulu ayah pernah jatuh tapi sakit itu mulai dirasakan sejak tahun 1999 sampe sekarang. Dan udah segala pengobatan di coba ayah, mulai dari pengobatan dokter sampe pengobatan alternatif tapi gak ada satupun yang dirasa berhasil.
Sempat terbersit keinginan untuk berobat ke Penang, karna kata teman2 ayah banyak yang berhasil setelah melalui operasi di sana, namun setelah melihat pengobatan alternatif sentel kertas itu ayahku jadi tertarik untuk mencoba dulu pengobatan itu. Toh sesungguhnya Allah SWT tidak menurunkan penyakit kecuali disertai juga dengan obatnya. Mungkin melalui Bapak Soeharto ini Allah akan menyembuhkan ayahku... semoga..
Langganan:
Posting Komentar (Atom)







2 komentar:
Hemm menarik ni postingannya Mba...
Biayanya berapa sih Mba? mahal ga?
si bapak gak nentuin harga, pasien cukup bayar seikhlasnya aja
Posting Komentar