Rabu, Desember 24, 2008

Ibu, I Miss You So Much

Semua orang tau kalau tanggal 22 Desember adalah hari ibu, begitupun aku, tak lupa aku sms mamaku untuk mengucapkan selamat hari ibu, "selamat hari ibu ya ma, terima kasih atas segala yg mama berikan untuk kami anak-anak mama, I love u mom.." 




Gak harus di hari ibu, hari-hari lainpun di setiap harinya kita wajib menyayangi ibu kita, yg telah dengan susah payah mengandung dan merawat kita, yang dengan penuh kasih sayang membesarkan dan  mengajar anak-anaknya.

Pagi ini seperti biasa sebelum memulai aktivitas di kantor aku membuka buka email, seorang teman mengirimiku email yg judulnya, "ibu, i miss u so much.." sebenarnya udah cukup lama aku pernah membaca cerita ini di email, tapi aku menerima lagi kiriman yg sama dari teman yg berbeda. Ceritanya cukup menarik, betapa doa seorang ibu akan sangat besar efeknya bagi kehidupan sang anak.

Waktu pertama kali membaca tulisan itu, aku gak pernah tau siapa penulisnya, ternyata subhanallah, aku bertemu langsung dengan sang empunya cerita pada saat pembekalan motivasi di kantor kami, dialah Jamil Azzaini, Senior Trainer dan penulis buku Best Seller KUBIK LEADERSHIP. Di akhir motivasinya dia bercerita tentang pengalamannya saat kecil, waktu itu baru aku sadar bahwa dialah penulis cerita di email itu, berikut ceritanya.. 

Hukum kekekalan energi dan semua agama menjelaskan bahwa apapun yang kita lakukan pasti akan dibalas sempurna kepada kita. Apabila kita melakukan energi positif atau kebaikan maka kita akan mendapat balasan berupa kebaikan pula. Begitu pula bila kita melakukan energi negatif atau keburukan maka kitapun akan mendapat balasan berupa keburukan pula. Kali ini izinkan saya menceritakan sebuah pengalaman pribadi yang terjadi pada 2003.

Pada September-Oktober 2003 isteri saya terbaring di salah satu rumah sakit di Jakarta . Sudah tiga pekan para dokter belum mampu mendeteksi penyakit yang diidapnya. Dia sedang hamil 8 bulan. Panasnya sangat tinggi. Bahkan sudah satu pekan isteri saya telah terbujur di ruang ICU. Sekujur tubuhnya ditempeli kabel-kabel yang tersambung ke sebuah layar monitor.

Suatu pagi saya dipanggil oleh dokter yang merawat isteri saya. Dokter berkata, "Pak Jamil, kami mohon izin untuk mengganti obat ibu". Sayapun menjawab "Mengapa dokter meminta izin saya? Bukankan setiap pagi saya membeli berbagai macam obat di apotek dokter tidak meminta izin saya" Dokter itu menjawab "Karena obat yang ini mahal Pak Jamil." "Memang harganya berapa dok?" Tanya saya. Dokter itu dengan mantap menjawab "Dua belas juta rupiah sekali suntik." "Haahh 12 juta rupiah dok, lantas sehari berapa kali suntik, dok? Dokter itu menjawab, "Sehari tiga kali suntik pak Jamil".

Setelah menarik napas panjang saya berkata, "Berarti satu hari tiga puluh enam juta, dok?" Saat itu butiran air bening mengalir di pipi. Dengan suara bergetar saya berkata, "Dokter tolong usahakan sekali lagi mencari penyakit isteriku, sementara saya akan berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar penyakit istri saya segera ditemukan." "Pak Jamil kami sudah berusaha semampu kami bahkan kami telah meminta bantuan berbagai laboratorium dan penyakit istri Bapak tidak bisa kami deteksi secara tepat, kami harus sangat hati-hati memberi obat karena istri Bapak juga sedang hamil 8 bulan, baiklah kami akan coba satu kali lagi tapi kalau tidak ditemukan kami harus mengganti obatnya, pak." jawab dokter.

Setelah percakapan itu usai, saya pergi menuju mushola kecil dekat ruang ICU. Saya melakukan sembahyang dan saya berdoa, "Ya Allah Ya Tuhanku... aku mengerti bahwa Engkau pasti akan menguji semua hamba-Mu, akupun mengerti bahwa setiap kebaikan yang aku lakukan pasti akan Engkau balas dan akupun mengerti bahwa setiap keburukan yang pernah aku lakukan juga akan Engkau balas. Ya Tuhanku... gerangan keburukan apa yang pernah aku lakukan sehingga Engkau uji aku dengan sakit isteriku yang berkepanjangan, tabunganku telah terkuras, tenaga dan pikiranku begitu lelah. Berikan aku petunjuk Ya Tuhanku. Engkau Maha Tahu bahkan Engkau mengetahui setiap guratan urat di leher nyamuk. Dan Engkaupun mengetahui hal yang kecil dari itu. Aku pasrah kepada Mu Ya Tuhanku. Sembuhkanlah istriku. Bagimu amat mudah menyembuhkan istriku, semudah Engkau mengatur milyaran planet di jagat raya ini."

Ketika saya sedang berdoa itu tiba-tiba terbersit dalam ingatan akan kejadian puluhan tahun yang lalu. Ketika itu, saya hidup dalam keluarga yang miskin papa. Sudah tiga bulan saya belum membayar biaya sekolah yang hanya Rp. 25 per bulan. Akhirnya saya memberanikan diri mencuri uang ibu saya yang hanya Rp. 125. Saya ambil uang itu, Rp 75 saya gunakan untuk mebayar SPP, sisanya saya gunakan untuk jajan.

Ketika ibu saya tahu bahwa uangnya hilang ia menangis sambil terbata berkata, "Pokoknya yang ngambil uangku kualat... yang ngambil uangku kualat..." Uang itu sebenarnya akan digunakan membayar hutang oleh ibuku. Melihat hal itu saya hanya terdiam dan tak berani mengaku bahwa sayalah yang mengambil uang itu.

Usai berdoa saya merenung, "Jangan-jangan inilah hukum alam dan ketentuan Yang Maha Kuasa bahwa bila saya berbuat keburukan maka saya akan memperoleh keburukan. Dan keburukan yang saya terima adalah penyakit isteri saya ini karena saya pernah menyakiti ibu saya dengan mengambil uang yang ia miliki itu." Setelah menarik nafas panjang saya tekan nomor telepon rumah dimana ibu saya ada di rumah menemani tiga buah hati saya. Setelah salam dan menanyakan kondisi anak-anak di rumah, maka saya bertanya kepada ibu saya "Bu, apakah ibu ingat ketika ibu kehilangan uang sebayak seratus dua puluh lima rupiah beberapa puluh tahun yang lalu?"

"Sampai kapanpun ibu ingat Mil. Kualat yang ngambil duit itu Mil, duit itu sangat ibu perlukan untuk membayar hutang, kok ya tega-teganya ada yang ngambil," jawab ibu saya dari balik telepon. Mendengar jawaban itu saya menutup mata perlahan, butiran air mata mengalir di pipi.

Sambil terbata saya berkata, "Ibu, maafkan saya... yang ngambil uang itu saya, bu... saya minta maaf sama ibu. Saya minta maaaaf... saat nanti ketemu saya akan sungkem sama ibu, saya jahat telah tega sama ibu." Suasana hening sejenak. Tidak berapa lama kemudian dari balik telepon saya dengar ibu saya berkata: "Ya Tuhan pernyataanku aku cabut, yang ngambil uangku tidak kualat, aku maafkan dia. Ternyata yang ngambil adalah anak laki-lakiku. Jamil kamu nggak usah pikirin dan doakan saja isterimu agar cepat sembuh." Setelah memastikan bahwa ibu saya telah memaafkan saya, maka saya akhiri percakapan dengan memohon doa darinya.

Kurang lebih pukul 12.45 saya dipanggil dokter, setibanya di ruangan sambil mengulurkan tangan kepada saya sang dokter berkata "Selamat pak, penyakit isteri bapak sudah ditemukan, infeksi pankreas. Ibu telah kami obati dan panasnya telah turun, setelah ini kami akan operasi untuk mengeluarkan bayi dari perut ibu." Bulu kuduk saya merinding mendengarnya, sambil menjabat erat tangan sang dokter saya berkata. "Terima kasih dokter, semoga Tuhan membalas semua kebaikan dokter."

Saya meninggalkan ruangan dokter itu.... dengan berbisik pada diri sendiri "Ibu, I miss you so much."

Jumat, Desember 19, 2008

Indahnya Berbagi Cerita

Berbagi cerita itu memang menyenangkan, apalagi bila berbagi cerita dengan teman-teman senasib, bisa mengurangi rasa yang membuncah di dada akibat penantian yg belum kunjung datang.

Akhir-akhir ini, tepatnya 2 bulan belakangan ini aku punya kebiasaan baru, rajin membuka website www.weddingku.com (WK), awalnya gak sengaja ketemu site ini, waktu mencari nama seorang dokter di mesin pencari google aku mengklik sebuah website yang menyebut nama doker yang aku cari. Ternyata disitu ada diskusi tentang kehamilan, aku tertarik dan terus membaca diskusi dan sharing yang ada disitu. Awalnya cuma membaca sharing or curhatan tapi lama-lama aku jadi tertarik untuk ikut join di forum diskusi itu. Berbagai macam topik diskusi yg disajikan, namun aku lebih memilih diskusi ttg pregnancy and parenting yg ada disitu, mulai dari kehamilan, masalah2 kehamilan, cara merawat bayi, dokter-dokter bagus yg direkomendasiin oleh mereka-mereka yg udah hamil, ada juga topik tentang terapi akupuntur untuk kehamilan, apa-apa yang dirasakan selama kehamilan dan curhatan dari teman-teman yg telah menikah namun belum kunjung hamil.

Berbagai cerita yg diungkapkan teman-teman disitu, ada yang sedih karna terus ditanyain oleh mertua dan sodara-sodara kenapa kok belom hamil juga padahal usia pernikahan udah lebih dari 5 tahun, ada yang belom bisa hamil karna ada masalah dengan rahim, tuba yg mampet, ACA yang tinggi, PCO, ada yg udah insem berkali-kali namun gagal terus, ada yg baru insem sekali tapi berhasil hamil, ada yang berencana akan program bayi tabung. Termasuk aku, menjelang usia pernikahan kami yang kelima, belum ada tanda-tanda kalau kami akan mendapat momongan, doa terus kami panjatkan memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk segera mendapatkan apa yg menjadi keingingan setiap keinginan pasangan yg menikah, yaitu memiliki anak.

Di tahun pertama dan kedua pernikahan kami aku masih nyantai kendati belum hamil, memasuki tahun ketiga baru sadar kenapa kok belom juga, akhirnya mulai ke dokter, tapi waktu itu ke dokternya jg cuma sekali-sekali, kalo pas niat aja ke dokter, gak dirutinkan. Udah beberapa kali pindah dokter karna saat itu kami masih ngontrak, jadi nyari dokternya yang deket-deket kontrakan. Memasuki tahun ke empat baru kami benar-benar merasa harus sekaranglah saatnya untuk benar-benar serius terhadap masalah yg satu ini. Udah beberapa dokter yang kami datangi, tapi belom ada yg sreg, bukan apa-apa, tapi biaya konsul pengobatannya itu yg mahal banget, menurutku gak normal biaya segitu dibandingkan dengan biaya konsul dokter lainnya yg sama-sama dokter kandungan.

Atas saran seorang teman kami pindah ke dokter lain, dokter ini bener-bener berbeda dari dokter-dokter kandungan yg pernah kami datangi sebelumnya, dia kelihatan smart, dia sangat ramah, dan selalu mensupport dan membesarkan hati pasien, padahal dia dokter muda, dari perbincangan dengan beberapa suster aku mendapat informasi bahwa dokter yg satu itu mengambil spesialis kebidanan di Australia dan sudah banyak yg berhasil menangani pasien yg bermasalah dengan kehamilan. Kami langsung mencoba proses inseminasi, maklum udah kebelet banget pengen punya anak makanya kami ikut proses yg cepat, namun kelihatannya Allah masih belum berkehendak memberikan kehamilan itu kepadaku, insem itu gagal, padahal setelah proses insem itu sendiri aku memperlakukan diriku layaknya wanita hamil, kenapa? Karna hari ketiga dan kelima setelah insem aku disuntik pregnyl untuk penguat rahim, merasa bahwa aku akan hamil, aku mulai hati-hati, gak mau terlalu capek, berjalan pelan-pelan, padahal biasanya begitu keluar dari kantor aku setengah berlari mengejar metromini 604 yang menuju stasiun sudirman, waktu mau ngantri karcispun aku setengah berlari karna takut ketinggalan kereta. Selain berhati-hati dan menjaga agar gak terlalu capek, aku rajin minum susu, dan rajin makan sayuran.

Namun kenyataan berkata lain, insem itu belum berhasil, sedih sih... karna udah ngarap banget, tapi berusaha mencoba untuk ikhlas karna bagaimanapun kerasnya usaha yg kami lakukan untuk mendapatkan momongan, kalau Allah belum berkehendak maka apa yang kami harapkan belum akan diberi olehNya, Allahlah yg lebih mengetahui apa yg terbaik buat kami, hambanya yg lemah ini, mungkin suatu hari nanti kami akan mengetahui hikmah dibalik cobaan ini.

Namun untungnya keluargaku dan keluarga suami semuanya pengertian, gak pernah nanyain atau menghakimi yg macem-macem, itu yg membuatku agak sedikit tenang. Berbeda dengan cerita teman-teman di WK, ada yang sedih banget karna iparnya sendiri yg ngatain yg enggak-enggak karna belum hamil, atau teman2 sekantor yg suka ngejek ko gak bisa hamil. Padahal siapa sih yg gak pengen punya anak, cuma mungkin waktunya aja yg belom tepat untuk dikasih sama Allah. Tapi selain cerita2 sedih tentu aja masih ada yg selalu ngasih support utk tetap semangat dan terus berusaha, jadi antar sesama forum diskusi saling menguatkan, itu yang membuat kami2 serasa dekat walaupun diantara kami belom pernah bertemu satu sama lain. Indahnya berbagi cerita..

Senin, Desember 15, 2008

Copet...

Juma'at 12 Des kemaren seperti biasanya plg kantor aku naek metromini 640 (atau 604 ya.. soale masi byk metromini yg angkanya masi 604) ke stasiun dukuh atas sudirman, saat naik metromini masi sepi, hanya ada beberapa penumpang, aku mengambil t4 duduk di sebelah kanan di barisan nomor 2 dari belakang. 

Seperti biasa aku selalu melihat keluar jendela memperhatikan kendaraan yang lalu lalang dan gedung2 bertingkat di sepanjang sudirman tanpa memperhatikan metromini yg mulai penuh disesaki oleh penumpang, baru di Karet aku sadar bahwa metromini yg aku tumpangi itu sarat dgn penumpang.

Saat itulah aku melihat ada keganjilan, t4 duduk di salah satu bangku depanku dan di depannya lg kosong, padahal byk penumpang yg berdiri di tengah, saat ada seorang cewek abg hendak turun bbrp laki2 paruh baya langsung memepet si cewek dari belakang dan dari samping, aku dengan jelas melihat tangan salah seorang laki2 keluar dari tas si cewek, lalu dengan buru2 memasukkan tanganya ke dalam tas ransel yg ditaruhnya di depan dadanya. Lalu dengan buru2 pula ia berjalan ke belakang diikuti tatapan mata temannya yg tadi ikut memepet sang cewek.

otakku langsung berkata copet, ini pasti gerombolan pencopet, karna ia seperti mengambil sesuatu dari tas cewek itu, aku gak tau pasti apa yg di ambil oleh laki2 tadi karna ketutupan sama tangannya yg dengan lincah memasukkan barang yg diambil itu ke dalam ranselnya. Aku gemetar, gak tau berbuat apa, cuma bisa kasian sama si cewek kalau2 ada yg hilang dari tasnya.

aku jadi teringat beberapa tahun yang lalu saat aku kecopetan, tepatnya tahun 2001, naek metromini 604 juga, saat hendak turun di Benhil, beberapa lelaki berdiri mengitariku, aku sempet heran, padahal masih byk kursi yg kosong tapi kenapa mereka pada berdiri? Tiba2 cowok yg berdiri di sebelah kiriku menepuk-nepuk pundakku, aku menoleh dan dia berkata "benhil masi jauh mba!!"  aku cuekin aja eh.. dia malah nepuk2 pundakku lebih keras lg sambil berkata kalimat yg sama, sempat kesel si, sambil terheran-heran "kenapa si ni orang".

setelah turun aku masi curiga dgn cowok2 di sekelilingku tadi, dengan spontan aku periksa tasku dan ternyata sodara2.. hp ku gak ada, aku yakin aku bawa hp itu karna sebelumnya aku sempat jawab sms temen di metromini itu. Kesel, sedih karna kehilangan hp, karna itu hp ku yg pertama, dan aku kecopetan belom lama saat aku dtg ke Jakarta.

Kejadian kedua juga sama, kecopetan, hp juga..  saat kecopetan yg kedua aku akui kalo itu karna kesalahanku yg gak hati2, kejadiannya di daerah Senen,  saat itu aku keluar dari atrium Senen, tangan sebelah kiri megang hp dan sebelah kanan megang dompet, karna hujan dan aku gak bawa payung, aku terima aja tawaran ojek payung yg ditawarin oleh seorang anak kecil, karna tangan yg sebelah kanan mo megang payung hp aku taruh di saku kanan blazer dan sebelah kiri megang dompet. Setelah tiba di t4 yg aku tuju, payung aku serahin ke anak kecil ojek payung tadi dan secara spontan merogoh saku, "masya Allah!!!.. aku menjerit spontan, hapeku kemana.."  lemes, marah campur sebel karna kecopetan lagi, aku berusaha untuk mencari anak kecil tadi karna bisa jadi dia yg ambil, dia ngeliat aku memasukkan hp ke dalam saku dan dia berjalan tepat di belakangku. Kejadian ini tahun 2002, padahal hape yg kecopetan itu hp kakakku yg masih baru, baru 1 bulan hiks.. hiks.. kebayang kan aku harus menghadapi kemarahan kakakku.....

kecopetan yg ketiga terjadi tahun berikutnya, tahun 2003, heran deh kok bisa tiap tahun kecopetan, karna kurang sedekah kali ya hehehe...  kecopetannya di kopaja 612 jurusan Ragunan-Tanah Abang, saat hendak turun di jembatan di depan BKPM aku turun dgn berdesak-desakkan dengan penumpang laen, emang saat itu kopaja penuh sesak sampe ada yg berdiri dekat pintu, setelah turun tasku masih nyangkut diantara penumpang di kopaja, karna tas yg aku pakai saat itu tas dengan tali panjang, dengan kuat kutarik tasku, kulihat kancingnya terbuka, namun saat itu aku belom sadar kalo aku kecopetan, lalu dengan santai aku melangkah sambil menutup tas yg tadi terbuka. Setelah sampe di kantor aku cari2 kok hapeku gak ada, baru ngeh kalo ternyata tadi tu kecopetan.

kesel minta ampun karna kecopetan sampe 3 kali, yg aku heran mereka tu cuma ngambil hape gak ngambil dompet, berarti copetnya masih baik kali ya.. hehehe, tapi setiap kali aku kecopetan hape dgn segera aku lapor ke Grapari Telkomsel sehingga nomornya bisa aku dapatin lagi. Salah seorang temen kantorku sampe bilang gini, "itu nomor sial kali makanya kamu kecopetan terus, ganti aja nomornya.."  ternyata ucapan sang teman tadi langsung mempengaruhi otakku, jangan2 iya kali itu nomor sial, buktinya aku bisa kecopetan sampe 3 kali. Sejak itu aku ganti nomor dan bertekad untuk hati-hati setiap berada di kendaraan umum seperti  metromini, kopaja atau mikrolet, tas selalu aku taruh di depan  sehingga selalu dalam pengawasanku, kalo di kendaraan umum mulai ada yg mepet2 atau yg mencurigakan dgn spontan tangan ini langsung menjepit tas di dada, takut terjadi sesuatu, karna aku gak mau sampe kecopetan yg keempat kalinya... semoga