Jumat, Desember 19, 2008

Indahnya Berbagi Cerita

Berbagi cerita itu memang menyenangkan, apalagi bila berbagi cerita dengan teman-teman senasib, bisa mengurangi rasa yang membuncah di dada akibat penantian yg belum kunjung datang.

Akhir-akhir ini, tepatnya 2 bulan belakangan ini aku punya kebiasaan baru, rajin membuka website www.weddingku.com (WK), awalnya gak sengaja ketemu site ini, waktu mencari nama seorang dokter di mesin pencari google aku mengklik sebuah website yang menyebut nama doker yang aku cari. Ternyata disitu ada diskusi tentang kehamilan, aku tertarik dan terus membaca diskusi dan sharing yang ada disitu. Awalnya cuma membaca sharing or curhatan tapi lama-lama aku jadi tertarik untuk ikut join di forum diskusi itu. Berbagai macam topik diskusi yg disajikan, namun aku lebih memilih diskusi ttg pregnancy and parenting yg ada disitu, mulai dari kehamilan, masalah2 kehamilan, cara merawat bayi, dokter-dokter bagus yg direkomendasiin oleh mereka-mereka yg udah hamil, ada juga topik tentang terapi akupuntur untuk kehamilan, apa-apa yang dirasakan selama kehamilan dan curhatan dari teman-teman yg telah menikah namun belum kunjung hamil.

Berbagai cerita yg diungkapkan teman-teman disitu, ada yang sedih karna terus ditanyain oleh mertua dan sodara-sodara kenapa kok belom hamil juga padahal usia pernikahan udah lebih dari 5 tahun, ada yang belom bisa hamil karna ada masalah dengan rahim, tuba yg mampet, ACA yang tinggi, PCO, ada yg udah insem berkali-kali namun gagal terus, ada yg baru insem sekali tapi berhasil hamil, ada yang berencana akan program bayi tabung. Termasuk aku, menjelang usia pernikahan kami yang kelima, belum ada tanda-tanda kalau kami akan mendapat momongan, doa terus kami panjatkan memohon kepada Yang Maha Kuasa untuk segera mendapatkan apa yg menjadi keingingan setiap keinginan pasangan yg menikah, yaitu memiliki anak.

Di tahun pertama dan kedua pernikahan kami aku masih nyantai kendati belum hamil, memasuki tahun ketiga baru sadar kenapa kok belom juga, akhirnya mulai ke dokter, tapi waktu itu ke dokternya jg cuma sekali-sekali, kalo pas niat aja ke dokter, gak dirutinkan. Udah beberapa kali pindah dokter karna saat itu kami masih ngontrak, jadi nyari dokternya yang deket-deket kontrakan. Memasuki tahun ke empat baru kami benar-benar merasa harus sekaranglah saatnya untuk benar-benar serius terhadap masalah yg satu ini. Udah beberapa dokter yang kami datangi, tapi belom ada yg sreg, bukan apa-apa, tapi biaya konsul pengobatannya itu yg mahal banget, menurutku gak normal biaya segitu dibandingkan dengan biaya konsul dokter lainnya yg sama-sama dokter kandungan.

Atas saran seorang teman kami pindah ke dokter lain, dokter ini bener-bener berbeda dari dokter-dokter kandungan yg pernah kami datangi sebelumnya, dia kelihatan smart, dia sangat ramah, dan selalu mensupport dan membesarkan hati pasien, padahal dia dokter muda, dari perbincangan dengan beberapa suster aku mendapat informasi bahwa dokter yg satu itu mengambil spesialis kebidanan di Australia dan sudah banyak yg berhasil menangani pasien yg bermasalah dengan kehamilan. Kami langsung mencoba proses inseminasi, maklum udah kebelet banget pengen punya anak makanya kami ikut proses yg cepat, namun kelihatannya Allah masih belum berkehendak memberikan kehamilan itu kepadaku, insem itu gagal, padahal setelah proses insem itu sendiri aku memperlakukan diriku layaknya wanita hamil, kenapa? Karna hari ketiga dan kelima setelah insem aku disuntik pregnyl untuk penguat rahim, merasa bahwa aku akan hamil, aku mulai hati-hati, gak mau terlalu capek, berjalan pelan-pelan, padahal biasanya begitu keluar dari kantor aku setengah berlari mengejar metromini 604 yang menuju stasiun sudirman, waktu mau ngantri karcispun aku setengah berlari karna takut ketinggalan kereta. Selain berhati-hati dan menjaga agar gak terlalu capek, aku rajin minum susu, dan rajin makan sayuran.

Namun kenyataan berkata lain, insem itu belum berhasil, sedih sih... karna udah ngarap banget, tapi berusaha mencoba untuk ikhlas karna bagaimanapun kerasnya usaha yg kami lakukan untuk mendapatkan momongan, kalau Allah belum berkehendak maka apa yang kami harapkan belum akan diberi olehNya, Allahlah yg lebih mengetahui apa yg terbaik buat kami, hambanya yg lemah ini, mungkin suatu hari nanti kami akan mengetahui hikmah dibalik cobaan ini.

Namun untungnya keluargaku dan keluarga suami semuanya pengertian, gak pernah nanyain atau menghakimi yg macem-macem, itu yg membuatku agak sedikit tenang. Berbeda dengan cerita teman-teman di WK, ada yang sedih banget karna iparnya sendiri yg ngatain yg enggak-enggak karna belum hamil, atau teman2 sekantor yg suka ngejek ko gak bisa hamil. Padahal siapa sih yg gak pengen punya anak, cuma mungkin waktunya aja yg belom tepat untuk dikasih sama Allah. Tapi selain cerita2 sedih tentu aja masih ada yg selalu ngasih support utk tetap semangat dan terus berusaha, jadi antar sesama forum diskusi saling menguatkan, itu yang membuat kami2 serasa dekat walaupun diantara kami belom pernah bertemu satu sama lain. Indahnya berbagi cerita..

Tidak ada komentar: